Erupsi Sejak Pagi, Merapi Akhirnya Meletus

Gunung Merapi akhirnya meletus setelah beberapa kali menyemburkan abu panas.
Gunung Merapi akhirnya meletus setelah beberapa kali menyemburkan abu panas.

YOGYAKARTA (Awal.id) Erupsi Gunung Merapi kian menjadi dan akhirnya meletus. Sekitar pukul 13.39 WIB, tampak kolom erupsi membumbung tinggi. BMKG setempat menyebut arah embusan abu vulkanik ke barat laut.

“Angin dari arah barat daya, debu vulkanik mengarah ke barat laut. Ke arah Kabupaten Magelang,” kata Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, dalam keterangannya, Rabu (27/1).

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Hanik Humaida mengatakan, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dan lava pijar yang meluncur sejauh 1.500 meter menuruni lerengnya. Itu adalah aliran awan panas terpanjang Gunung Merapi sejak statusnya naik menjadi Siaga pada November tahun lalu

Meski begitu, Hanik bilang, tingkat kewaspadaan Merapi masih di level tertinggi kedua. Masyarakat harus menghindari zona bahaya dengan radius 5 km dari kawah gunung yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah itu.

Dia mengatakan, pemerintah daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah saat ini memantau situasi Gunung Merapi dengan cermat.

Gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu merupakan yang paling aktif dari puluhan gunung berapi di Indonesia, dan telah berulang kali meletus dengan mengeluarkan lava pijar serta awan panas baru-baru ini.

Seperti diketahui, sejak Rabu pagi, aktivitas vulkanik gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu memang terus meningkat. Dalam kurun waktu 6 jam, Gunung Merapi sudah 22 kali meluncurkan awan panas.

“Pukul 06.00 hingga 10.00 WIB terjadi 14 kali awan panas  Kemudian, pukul 10.00 hingga 12.00 WIB terjadi 8 kali awan panas. Sehingga total awan panas sebanyak 22 kali, amplitudo 60 milimeter, durasi 197 detik,” kata Hanik dalam keterangannya.

Suasana di lokasi, saat terjajdi erupsi siang tadi suara sirine bahaya terdengar meraung-raung, sehingga warga di kawasan rawan bencana (KRB) yang mendengar suara itu bergegas mulai turun ke tempat yang dianggap aman.

Suara Gemuruh

Sebelumnya, saat erupsi pukul 13.30 WIB tidak terdengar suara gemuruh sama sekali. Namun sirine yang berada di Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman dibunyikan oleh petugas. Para relawan yang berada dekat dengan lokasi bergeser ke tempat aman. Sementara warga di sekitar Ngrangkah juga keluar rumah dan memantau kondisi Merapi.

Suasana seperti itu juga terjadi di Padukuhan Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem. Banyak warga yang turun ke SD Sanjaya Tritis dan lapangan Tritis. Ketika terjadi erupsi, angin bertiup dari sisi barat ke timur. Namun hingga saat ini belum ada laporan adanya hujan abu vulkanik.

Sementara dari Klaten dilaporkan, warga di kawasan rawan bencana (KRB) 3 di Kecamatan Kemalang, Klaten, sejak siang hari sudah banyak yang turun mengevakuasi diri ke lokasi aman.

“Tadi sekitar pukul 12.00 WIB cukup besar,” jelas Kordinator Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Subur.

Menurut Subur, abu vulkanik Gunung Merapi juga turun cukup tebal di Desa Tegalmulyo. Subur menambahkan, abu yang turun pada siang hari lebih tebal. Warga yang melihat kolom abu besar langsung turun.

Hal senada juga disampaikan Kepala Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Sukono, yang mengatakan erupsi Merapi tampak cukup besar. Sehingga warga yang beraktivitas di atas sebagian turun. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *