Lagi, Tim Tabur Kejati Jateng dan Tim Intel Kejari Semarang Tangkap Terpidana DPO

Terpidana Yossy Winarto (kiri) berbincang-bicang Kasi Intel Kejari Semarang Subagyo Gigih Wijaya (kanan).
Terpidana Yossy Winarto (kiri) berbincang-bicang Kasi Intel Kejari Semarang Subagyo Gigih Wijaya (kanan).

SEMARANG (Awal.id) – Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah bersama Tim Intelijen Kejaksaan Negeri Kota Semarang kembali berhasil menangkap Yossy Winarto, terpidana perkara pemalsuan surat yang masuk dalam daftar DPO (daftar pencarian orang).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Hari Setiyono SH pada siaran persnya kepada Awal.id, di Semarang, Jumat (29/1/2021) mengatakan penangkapan terpidana Yossy ini merupakan hasil pengembangan penyelidikan terhadap Angga Aditya Setiawan, terpidana dalam perkara yang yang tertangkap di Rumah Makan Taliwang, Jalan Kapten Pierre Tendean No.3,  Sekayu, Semarang Tengah Kota Semarang, Selasa (26/1/2021).

Dari kicauan Angga ini, tim Tabur Kejati Jateng kemudian melakukan tracing data dan lokasi terpidana DPO tersebut.

Tim Kejaksaan berupaya melakukan pendekatan persuasif agar terpidana yang kabur di wilayah Blitar segera menyerahkan diri.

“Terpidana kami ultimatum, sampai kapan pun dan sembunyi di mana pun tetap terus kami buru, apalagi terpidana Yossy juga masuk dalam daftar DPO Kejari Kota Semarang,” kata Hari.

Upaya persuasi yang dilakukan tim Tabur akhirnya membuat hasil. Terpidana Yossi Winarto pada hari Jumat (29/12021) sekitar pukul 09.00 WIB mendatangi Kantor Kejari Kota Semarang untuk menyerahkan diri.

“Usai kami tangkap, terpidana Yossy terlebih dahulu kamu swab antigen. Maklum, sekarang ini lagi musim pandemi Covid-19, sehingga kami wajib untuk berjaga-jaga untuk membantu pemerintah dalam mencegah penularan virus berbahaya tersebut,” katanya.

Palsu Tanda Tangan

Sebelum dibekuk tim Tabur, Yossy pada putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor 238/K/pid/2013 tanggal 1 Oktober 2014 dinyatakan telah  melanggar pasal 263 Ayat (2) jo. 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Dalam surat dakwaannya, jaksa penuntut umum (JPU) mengungkapkan terdakwa dalam bulan Juli tahun 2010 sampai dengan bulan Pebruari 2011, bertempat di Kantor Bank Mandiri Cabang Rumah Sakit Dr Kariadi,  Jalan Dr.Sutomo No.16 Kota Semarang, nyata-nyata telah melanggar Undang-undang Perbankan

Selaku pegawai Bank Mandiri, terpidana secara berlanjutan telah mengambil dana nasabah tersimpan dalam rekening atas nama pamannya dan tantenya (Hartanto dan Saptawati) dengan cara memalsukan tandatangan.

Penarikan dana nasabah yang dilakukan secara ilegal sejak bulan Juli 2010 sampai dengan bulan Pebruari 2011 menyebabkan korban menelan kerugian sebesar Rp 2,250 miliar.

“Hasil penarikan dana dari rekening para korbannya dinikmati terpidana sendiri. Uang hasil penarik dana nasabah dipergunakan terpidan untuk bisnis Valas dan tersisa Rp 15, 7 juta membeli laptop,” ujar Hari.

Hari mengatakan usai dilakukan rapidtest, terpidana langsung dieksekusi dengan cara dimasukkan ke Lapas Kedungpane. (*)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *