Musisi Senior Kota Semarang Hari Djoko Santoso: Fasilitasi Musisi Muda agar Bertalenta

Hari Djoko Samtoso
Hari Djoko Santoso

SEMARANG (Awal.id) – Pandemi Covid-19 telah membuat perubahan di semua sektor kehidupan kita. Dampak perubahan ini dirasakan para pelaku usaha hiburan. Untuk menekan angka penularan wabah yang mematikan, pemerintah membatasi ruang lingkup mereka, yakni larangan menggelar acara atau event yang menimbulkan kerumunan massa.

Pembatasan kegiatan di dunia hiburan, tentu saja berimbas kepada musisi. Imbas ini diamini salah satu musisi asal Semarang, Hari Djoko Santoso.

“Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) betul-betul kami rasakan. Saya dan kawan-kawan yang bergelut di dunia hiburan harus berpikir keras untuk bisa tetap berkarya dan hidup di dunia yang saya lakoni (musik),” kata Hari Djoko Santoso kepada Awal.id, Sabtu (22/1/2021).

Bagi masyarakat Semarang, terutama para penggiat seni di Kota Lumpia, nama Hari Djoko Santoso yang akrab disapa Hari Djoko, bukanlah nama asing.

Musisi asal Semarang yang menekuni musik sejak kelas 5 SD itu sudah banyak melahirkan sejumlah grup musik dan penyanyi di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.

Di antara musisi yang ada di Semarang, Hari Djoko merupakan salah satu musisi senior yang masih aktif hingga saat ini dan menempatkan profesinya untuk bertahan hidup.

Kiprahnya yang panjang dalam menekuni dunia musik di Kota Semarang ini membuat kecintaannya terhadap kota kelahirannya semakin besar. Jika ditanya bagaimana dunia musik Semarang saat ini, pria kelahiran 11 September 1965 itu tidak segan-segan langsung mengacungkan jempolnya.

“Teknis dan kreativitas musik di Kota Semarang patut diacungi jempol. Semarang sekarang banyak melahirkan musisi-musisi hebat,” ujarnya.

Di sisi lain, Hari Djoko menyadari ada beberapa kekurangan yang menimpa musisi Semarang. Kekurangan yang menjadi ganjalan ini adalah kurangnya rasa percaya diri.

“Sebenarnya penampilan mereka sudah oke, tapi, mereka sering minder sendiri. Mereka juga tidak siap oleh kritikan,” ujarnya.

Berbagai usaha untuk menghidupkan kembali para pegiat seni musik di Kota Semarang telah dilakukan pria berusia 55 tahun ini, di antaranya  memfalitasi para musisi agar bisa berlatih atau bermain musik di rumahnya secara gratis.

Sediakan Tempat Gratis

Pemerintah Kota Semarang juga membantu mereka dengan menyediakan tempat latihan secara gratis di Museum Mandala Bakti setiap hari Minggu.

“Siapa saja yang ingin bermusik di Museum Mandala Bakti, silakah pakai fasiltas gratis ini. Manfaatkan fasilitas pemerintah untuk meningkatkan telenta bermusik adik-adik semua. Kesempatan emas untuk berekspresi, berkreativitas harus dimanfaatkan secara optimal,” pesannya.

Hari Djoko juga berupaya mengumpulkan teman-teman grup-grup musisi yang bagus di Kota Semarang bermain di Mandala Bakti untuk sekedar jamming bareng, main musik bareng, senang-senang bareng. Ibaratnya, tidak bayaran sekali pun, asal bisa bermain musiknya dengan bagus bisa menyenangkan hati, karena bisa memenuhi rasa lapar akan bermusik.

Mengumpulkan kembali pegiat seni di Kota Semarang memang bukan hal yang gampang. Adanya perbedaan pendapat antarmusisi antargrup (main musik kalau bisa ya ada bayarannya), menurut Hari Djoko, membuat mereka sulit untuk dikumpulkan, apalagi dikolaborasikan.

Manfaatkan Media Online

Selama pandemi Covid-19 kegiatan pengumpulan massa tentu akan dilarang, namun Hari Djoko miliki rencana untuk memanfaatkan kekuatan dari media online agar para pegiat seni tetap eksis.

Caranya, dengan meminta bantuan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) untuk   memberikan surat kepada radio, media online dan sebagainya, sehingga para pelaku seni mempunyai wadah penyaluran bakat dan ekspresi profesinya.

“Masalah nanti dapat uang apa tidak, urusan belakang. Yang paling penting bagi musisi adalah ada tempat untuk bisa main musik. Untuk masalah rejeki, mereka percaya suatu saat mereka bakal dapat, yang penting jalannya,” paparnya.

Dalam masa perpanjangan PPKM Jawa-Bali ini, Hari Djoko berharap generasi muda sebagai penerus musisi senior agar terus semangat untuk berkarya. Mereka harus meniatkan diri menjadi musisi, profesi yang sudah dijalani hingga sekarang.

Soal ada hambatan apa tidak, pelaku seni harus tetap jalan. Dan, ketika bisa menghadapi hambatan, hambatan akan jadi ilmu untuk kita. “Tidak ada pekerjaan yang tidak ada hambatannya. Tidak ada pekerjaan yang tidak ada persoalannya,” tandas Hari Djoko. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *