Tren Tingwe Jadi Exit Plan Komoditas Rokok Selama Pandemi

SEMARANG (Awal.id) Naiknya cukai rokok membuat rokok tingwe (nglinting dewe) jadi exit plan bagi para perokok. Selain harganya yang terpaut jauh dengan rokok pabrikan, ekonomi petani pun ikut terbantu, karena stok yang tak terserap pabrik masuk ke pengecer tembakau lintingan.

Di kalangan pedagang eceran, rokok adalah komoditas yang lumayan menyenangkan untuk dijual. Bukan cuma mudah dijual, penyimpanannya pun tidak merepotkan, karena tak makan tempat. Tapi yang terutama, untungnya lumayan dibanding berdagang sembako partai kecil.

Cuma, yang namanya hidup, pasti tidak melulu enak, termasuk berdagang rokok. Rokok kemasan produksi pabrik adalah komoditas yang sensitif harga. Beda dengan beras dan gula, misalnya. Selama belum muncul tren merebus batu, mau naik berapa pun tentu dua bahan pangan ini tetap banyak yang membeli. Lain cerita dengan rokok kemasan yang orang pasti pikir-pikir jika harganya melonjak tinggi.

Di Semarang, selama pandemi membuat toko tembakau linting tumbuh subur. Sebagian besar berukuran kecil ala kedai kopi bahkan ada yang bentuk rumahan. Toko-toko ini menjadi tengara kemunculan gelombang ahli isap yang mulai ogah menebus rokok bungkusan produksi pabrik, beralih membeli tembakau rajang untuk dilinting secara berdikari.

Linting dewe atau tingwe, istilah Jawa untuk melinting tembakau sendiri, kini marak karena membuat ongkos merokok jauh lebih murah. Menurut Agus (44), seorang veteran tingwe, ia habis 70 ribuan saja per bulan untuk merokok tingwe. Bandingkan dengan merokok biasa yang jika sehari habis sebungkus harga Rp 20ribu, akan butuh anggaran 600 ribu sebulan alias delapan kali lebih lipatnya.

Dari sisi petani dan pedagang tembakau, tingwe juga jadi tren yang disyukuri. Deni Priyo (23), pemasok tembakau linting dari Temanggung untuk area Semarang, ikut merasakan terbantu oleh tren tingwe ini.

Menurut Deni, tingwe membantu mengurangi penderitaan yang dirasakan petani tembakau selama 2020. Mudah dinalar, penjualan pabrik turun, permintaan suplai dari petani pun juga anjlok. Apalagi pabrik masih punya banyak stok sehingga tak semua panenan petani terserap.

“Perlu disyukuri, tren ini (tingwe) positif untuk pedagang kayak saya. Soalnya karena corona ini orang-orang mulai melirik tembakau linting sebagai solusi. Bahkan tak jarang dari mereka mengamini bahwa rasanya lebih enak dari rokok pabrikan,” tambah Deni.

Melihat sekilas tren tingwe ini, tampaknya tembakau mulai menyerupai gejala yang sudah dialami produk pertanian lain seperti kopi dan teh. Di satu sisi, orang menjajal tingwe karena perbedaan harganya dengan rokok pabrikan. Di sisi lain, mulai tumbuh pula kepedulian mencicipi produk konsumsi yang lebih berkualitas dan rasanya tidak template.

Saya jadi terbayang, jika mengisap tembakau yang unik dianggap keren lalu menjadi tren. Bukan tidak mungkin kelak alat rajang daun tembakau menjadi peralatan hobi berharga mahal, melinting menjadi kultur hipster, bahkan di bioskop-bioskop kita mulai terpajang poster film berjudul Filosofi Tembakau. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *