Pengasuh Ponpes Santri Ndalan Nusantara Muhammad Nurul Huda, Allah Tak Melihat Tatomu, Tapi Kebersihan Hatimu

Gus Huda
Gus Huda

SEMARANG (Awal.id) – Kebersihan hati merupakan faktor terpenting untuk mengubah kehidupan seseorang. Dengan hati yang bersih, dan semata-mata mengharap ridho dari Sang Pencipta, orang dengan status apa pun, dari golongan apa pun, pasti dapat mewujudkan keinginannya, yakni menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Pandangan ini selalu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Santri Ndalan Nusantara Semarang, Muhammad Nurul Huda kepada santri atau calon santri-santrinya.

Ajakan Gus Huda, panggilan akrab Muhammad Nurul Huda, untuk fokus pada niat hati yang bersih ini membuat orang yang sebelumnya takut atau enggan masuk masjid atau musala, akhirnya berani masuk rumah Allah demi mengikuti majelis mujahadah.

Gus Huda saat ditemui Awal.id

Mereka yang takut atau risih untuk belajar mendalami Agama Islam itu kebanyakan berlatar belakang orang-orang jalanan. Tato di sekujur tubuh, rambut gondrong atau semir rambut aneka warna bak orang bule, menjadi alasan krusial bagi mereka untuk mengikuti kegiatan siraman rohani yang dilaksanakan di masjid maupun musala.

“Wah saya ingin ikut mujahadah, tapi saya takut. Saya mau ikut mujahadah kalo saya bersih hatinya, Saya masih kotor untuk mendatangi masjid untuk ngaji,” kata Gus Huda menyitir ucapkan colon santrinya yang berasal dari anak jalanan.

Dalam menuntun mereka ke jalan yang lurus, Gus Huda tidak melakukan secara ekstrem. Misalnya, mereka yang bekerja di bank harus berhenti bekerja, karena menurut mereka telah makan riba (bunga bank) gitu.Orang tatoan kalau mau masuk Islam harus dihilangkan tatonya dulu. Larangan seperti ini dinilainya terlalu ekstrim.

“Allah tidak melihat kamu dari tatomu/fisikmu, tapi tuhanmu melihat kamu dari kebersihan hatimu. Termasuk mereka yang semiran. Semir itu tidak ada yang mengharamkan, kalau semir hitam malah haram, tapi selain warna itu tidak,” paparnya.

Kebijakan dan kesantunan Gus Huda dalam menjembatani dan membimbing para anak jalanan akhirnya membuahkan hasil. Mereka menyadari telah melakukan hal yang dilarang agama, sehingga secara sukarela mengaku ingin mengenal dan belajar Agama Islam lebih jauh melalui majelis mujahadah.

Toleransi yang tinggi dari Ponpes Sandal dalam menerima jamaah/santri inilah yang membuat orang-orang jalanan, seperti penyanyi jalanan, anak punk, pengamen maupun kalangan pegawai, merasa “diuwongke”, sehingga beramai-ramai menjadi jamaah Santri Ndalan.

Sebelum membentuk Ponpes Santri Ndalan, pria kelahiran Kabupaten Semarang, 19 November 1989 itu, awalnya akan mendirikan majelis dzikir dan sholawat dengan nama Sohitul Mahbub.

Namun, dalam rentang perjalanannya Sohitul Mahbub akhirnya menjadi nama grup rebana. Selang 3 tahun kemudian, Gus Huda mendirikan Majelis Dzikir Mujahadah dengan nama Jalbul Rizqi yang artinya jalan rejeki.

Pemberian nama Jalbul Rizqi untuk Majelis Dzikir Muhajadah yang dipimpinnya ini bukan tanpa sebab. Majelis Dzikir Muhajadah Jalbul Rizqi merupakan salah satu bentuk tirakat ala Gus Huda setelah dia banyak didatangi orang-orang yang dililit masalah keuangan.

“Pak Kiai, utangku akeh. Pak Kiai rejekiku seret dan lain sebagainya,” begitu keluhan banyak orang yang mendatangi Gus Huda.

“Saya heran, padahal saya nggak bisa nyetak uang, tapi mereka kok sambatnya sama saya gitu. Terus mereka itu saya ajak mujahadah lewat Jalbul Rizqi ini,” ujar Gus Huda mengenang masa-masa awal pembentukan Majelis Mujahadah Jabil Rizqi.

Secara lambat, tapi pasti, jamaah Majelis Mujahadah Jabil Rizqi semakin banyak. Para jamaah sekarang tidak melulu meminta rizqi, namun niat mereka ikut dalam majelis ini lebih kompleks, seperti mohon keselamatan, umur barokah dan lain sebagainya.

Petunjuk Allah

Menjadi kiai atau ulama bukan merupakan cita-cita atau keinginan Gus Huda sejak kecil. Gus Huda yang sejak umur 10 bulan berpisah dengan orang tuanya dan mengikuti sang kakek, sudah mengenal Agama Islam di masa kanak-kanak. Maklum saja, sang kakek saat itu menjadi guru ngaji atau kiai di ponpesnya.

Dengan kehidupan sosial yang bernuasa islami, Gus Huda muda yang mondok (belajar di pondek pesantren) memiliki banyak bekal ilmu agama dari kiai-kiai yang semuanya bermafaat bagi kebaikan umat.

Pada saat mondok, dia selalu teringat nasihat salah satu gurunya agar tidak berorientasi menjadi kiai jika belajar ilmu agama di pondok pesantren. “Mondok kok cita-citanya jadi kiai. Jadi nggak boleh gitu. Kita ngaji itu niatnya ya ngaji, ngilangin kebodohan gitu aja,” begitu pesan gurunya.

Berbeda bila seseorang bercita-cita ingin menjadi pejabat. Jika ingin menjadi anggota DPRD, contoh Gus Huda, orang harus melakukan begini atau begitu.

“Tapi kalau orang menjadi mubalig atau kiai, itu memang orang-orang pilihan dari Allah. Allah sudah menunjuk umatnya untuk menjadi mubalig, bukan karena dia bercita-cita jadi mubalig,” kata Gus Huda.

Ketua GP Ansor Semarang Selatan ini mengaku menjadi pendakwah, pengasuh/pembina Ponpes Sandal bukan semata-mata karena jerih payahnya yang dilakoni sejak muda. Namun, berkat doa, barokah dan tirakat yang besar dari para leluhur, dia bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Istilahnya, saya yang menikmati hasil yang dilakukan mbah-mbah saya. Tirakat itu, seperti prihatin lah gitu,” ujar Gus Huda.

Dalam mengasuh pondok pesantren yang santrinya banyak berasal dari orang-orang jalanan, Gus Huda mengaku punya satu kunci, yakni istiqomah atau konsisten.

“Bekerja dengan landasan istiqomah lebih utama daripada seribu keramat/karomah. Ibaratnya kita mencari satu kekeramatan saja sulit, apalagi seribu. Jadi ya kuncinya cuma istiqomah,” dengan selalu sabar jika mendapat cobaan,” tandas Gus Huda. (*)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Justwibie berkata:

    Salam Sungkem

  2. samba berkata:

    Barakallah gus..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *