Resmob Polrestabes Semarang Bekuk Komplotan Penipuan Modus Gendam

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana memberi keterangan kepada wartawan soal penangkapan empat pelaku penipuan dengan modus gendam.
Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana memberi keterangan kepada wartawan soal penangkapan empat pelaku penipuan dengan modus gendam.

SEMARANG (Awal.id) – Jajaran Resmob Polrestbes Semarang berhasil membekuk empat orang pelaku penipuan dengan modus hipnotis atau gendam.

Empat orang kelompok Sumatera ini ditangkap dalam penggerebekan yang dipimpin Kanit Resmob Iptu Reza Hadafi, di sebuah tempat karaoke di kawasan Kopeng, Salatiga.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Indra Mardiana mengatakan, keempat pelaku tersebut adalah Andreas Pomi (41), Rio Herlambang (31), Hermansyah (29) dan Hendrik (44).

Menurut Indra, aksi mereka ini setidaknya sudah dua kali dilakukan di dua tempat, yaitu di Swalayan ADA Bulu dan Paragon Mall pada 8 Februari 2021 dan 5 Maret 2021.

“Modus kawanan ini adalah dengan mendekati korban dan mengatakan kalau ada aura negatif pada korban. Untuk menyakinkan korban, pelaku ini menempelkan telur ke badan dan langsung memecahkan telur yang di dalamnya terdapat jarum dan rambut,” ujar AKBP Indra Mardiana saat konferensi pers di Mapolrestabes Semarang, Selasa (30/3/2021).

Dalam melakukan aksinya, kata Indra, para pelaku mengaku sebagai orang pintar ini merupakan tipu muslihat saja. Dengan dalih minta sumbangan, kedua korban yang sudah terhipnotis secara tidak sadar menyerahkan ATM kepada pelaku. Oleh pelaku ATM korban kemudian ditukar dengam ATM palsu yang sudah disiapkan pelaku.

Kedua korban gendam, Cahyani Wulandari (40) dan Fauziah Nurfiqih (25) menjelaskan dirinya baru tersadar telah terkena hipnotis setelah tib di rumah. Saat mendapat laporan SMS dan M-Bangking, uangnya sebesar Rp 38,5 dan Rp 50 juta sudah diambil pelaku melalui transfer dan tarik tunai.

“Pada mulanya saya merasa iba saat mereka meminta bantuan untuk sumbangan dan saat itu dipikiran saya mereka orang “pintar” dengan mengetahui penyakit,” ujar Cahyani yang diamini Fauziah.

Wulan dan Fiqih mengimbau masyarakat agar berhati-hati jika didekati oleh orang tak dikenal saat di luar rumah. “Jangan mudah percaya dengan segala bujuk rayunya,” tutur Cahyani.

Keempat pelaku ini masih menjalani pemeriksaan intesif di ruang penyidik Resmob Polrestabes Semarang. Sementara dua orang pelaku lainnya hingga kini masih dalam pengejaran jajaran Resmob Polrestabes Semarang.

Dalam penangkapan para pelaku gendam, polisi menyita sejumlah barang  bukti, antara lain 17 kartu ATM, uang tunai, 8 unit handphone, dan satu unit mobil yang digunakan pelaku.

Dengan kejadian ini para keempat tersangka dijerat dengan pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman tertinggi 5 tahun penjara. (*)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *