Polrestabes Semarang Reka Ulang Adu Fisik PIP, Terungkap Fakta Baru Korban Tak Cuma Dipukul

SEMARANG (Awal.id) – Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang melalui Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) dan Tim Inafis Polrestabes Semarang melakukan reka adegan ulang terkait kasus tradisi uji kekuatan fisik kepada taruna Politek Ilmu Pelayaran (PIP) Kota Semarang yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Reka adegan ulang tersebut dihadiri lima pelaku beserta belasan saksi. Untuk menghindari kerumunan massa, kegiatan tersebut dilakukan di Mapolrestabes Semarang, tepatnya di ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PAA) Polrestabes Semarang, Kamis (16/9).

Seperti diberitakan, kasus tersebut bermula dari lima orang senior angkatan 54 dan 15 orang junior angkatan 55 PIP Semarang yang menjalani tradisi uji kekuatan fisik di Mes Indo Raya. Akibat pukulan keras dari senior, seorang taruna junior akhirnya meninggal dunia.

Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKP Agus Supriyadi mengatakan reka ulang adegan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil yang dilakukan para pelaku terhadap korban.

“Reka ulang adegan kejadian tersebut kami juga menghadirkan tim Jaksa dari Kejaksaan Negeri Kota Semarang, PIP Semarang dan dokter serta perawat RS Roemani saat menerima korban masuk kali pertama pascakejadian,” ujar Agus usai memimpin kegiatan tersebut.

Agus menjelaskan pada reka ulang yang memperagakan 20 adegan tersebut, penyidik menemukan fakta baru yang tidak sesuai dengan pengakuan para pelaku.

“Saat melakukan reka adegan, terungkap fakta baru pada saat tradisi adu fisik tersebut, ternyata selain memukul menggunakan tangan para pelaku juga melakukan tendangan di bagian perut, dada dan paha menggunakan kaki dan lutut,” ungkap Agus.

Kegiatan ini,lanjut Wakasat Reskrim, dilakukan penyidik untuk melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP). “Untuk sementara, usai melakukan reka adegan tersebut, para pelaku masih kita lakukan penyelidikan berikutnya. Terkait pasal, masih kita kenakan 170 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatnya matinya seseorang  dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara,” tandas Agus. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *