Pembina Santri Ndalan Nusantara Henri Pelupessy, Komitmen Jaga Tolerasi dan Keberagaman

Pembina Ponpes Santri Ndalan Nusantara Henri Pelupessy (kanan) dipandu Rudy Bonsa (kiri) saat tampil di program Inspirasi Awal Media Nusantara, Rabu (17/11).
Pembina Ponpes Santri Ndalan Nusantara Henri Pelupessy (kanan) dipandu Rudy Bonsa (kiri) saat tampil di program Inspirasi Awal Media Nusantara, Rabu (17/11).

SEMARANG (Awal.id) – Keberagaman dan toleransi di dalam lingkungan Pondok Pesantren Santri Ndalan Nusantara (Santri Ndalan) menjadi motivasi bagi Henry Pelupessy untuk bergabung dengan komunitas bernuasa Islam tersebut.

Pondok Pesantren yang berlokasi di Jalan Pleburan No 42 Semarang tidak mensyaratkan seseorang yang ingin nyantri atau menimba ilmu agama di Pondok Santri Ndalan. Semua kegiatan majelis yang digelar Ponpes Santri Ndalan terbuka untuk umum, tanpa membedakan suku, agama, golongan dan ras.

“Rasa keberagaman dan tolerasi para santri di Ponpes Santri Ndalan Nusantara sangat tinggi sekali. Ini yang memotivasi saya bersedia bergabung dalam komunitas Santri Ndalan,” kata Pembina Ponpes Santri Ndalan Nusantara Henri Pelupessy SH ST MM saat menjadi narasumber di program Inspirasi yang disiarkan secara langsung di kanal Youtube Awal Media Nusantara, Rabu (17/11).

Henri yang juga menjadi salah satu pengurus KONI Jateng mengaku Ponpes Santri Ndalan memiliki komitmen yang berbeda dengan ponpes-ponpes lainnya. Ponpes Santri Ndalan lebih mengutamakan pembinaan akhlak para santri ketimbang aspek bisnis atau menghasilkan keuntungan materiil.

Atas dasar itu, kata dia, siapa pun yang ingin menjadi santri di ponpes ini, mereka tidak dikenai biaya alias gratis. Tak mengherankan jika para santrinya berasal dari berbagai kalangan, baik orang jalanan, seperti pengamen, pemulung, pemabuk hingga karyawan perkantoran pun tertarik untuk menjadi jamaah Santri Ndalan.

“Program belajar agamanya gratis! Di sini, saya melihat Ponpes Santri Ndalan memiliki komitmen yang kuat untuk membantu semua orang dari berbagai karakter dan latar belakang,” ungkap Henri.

Seiring dengan berkembangnya komunitas Sandal, dengan jamaah dari beragam agama, dan latar belakang, menurut Henri, memotivasi pembina dan pengurus Ponpes Sandal untuk membentuk yayasan dengan semangat yang sama. Semangat dan komitmen yang tinggi untuk menjaga dan memelihara kebersamaan, yakni pengurus maupun pembina tidak hanya beragama Islam ataupun suku Jawa.

“Gus Huda selaku pengasuh dengan rendah hati selalu membantu orang untuk mengenal Tuhan ya lebih baik, menjaga keberagaman, dan ingin memajukan pondok pesantren,” ujar Henry.

Henry berharap kebhinnekaan yang terbangun dalam Santri Ndalan bisa menjadi panutan atau contoh semua organisasi sosial yang berada di Indonesia. Semangat kebhinnekaan perlu ditularkan ke masyarakat luas, karena persatuan di tengah perbedaan saat penting dan dibutuhkan Indonesia yang memiliki beragam suku, agama, ras dan antargolongan. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *