Tutup PPPJ Angkatan 79, Jaksa Agung Ingatkan Jaksa Jangan Tergoda Lakukan Penyimpangan

JAKARTA (Awal.id) – Jaksa Agung ST Burhanuddin mengatakan pendidikan dan pelatihan pembentukan jaksa (PPPJ) merupakan suatu proses metamorfosa pegawai kejaksaan, dari seorang staf tata usaha menjadi seorang pejabat fungsional jaksa.

“Perubahan ini tentu sangat signifikan, baik dari segi kewenangan, hak dan kewajiban serta perilaku hidupnya,” kata Burhanuddin pada penutupan PPPJ Angkatan LXXIX (79) Gelombang I Tahun 2022, di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia, Jakarta, Rabu (21/9).

Jaksa Agung meminta perubahan kedudukan tersebut harus diimbangi dengan perubahan mental, pola pikir, dan pola kerja yang berorientasi untuk pengabdian kepada masyarakat dengan mengedepankan integritas dan profesionalitas, sehingga mampu mengeliminir penyalahgunaan kewenangan dalam bertugas.

“Kalian harus menyadari, bahwa menjadi seorang jaksa itu tidak mudah, karena jaksa merupakan salah satu penengak hukum dengan lingkup tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus memiliki kompleksitas kerja yang tinggi,” ujar Jaksa Agung.

Jaksa Agung menyampaikan sebagai jaksa, di samping akan bertindak sebagai penuntut umum yang merupakan tugas pokoknya, juga harus mampu mengemban tugas lainnya sebagai penyidik, jaksa pengacara negara, sekaligus melaksanakan fungsi intelijen.

Kedudukan sebagai seorang jaksa, lanjut  dia, akan memberikan kewenangan untuk merampas kemerdekaan seseorang. Tentunya, hal ini menjadi kewenangan yang sangat luar biasa. Apabila tidak dilengkapi dengan integritas, profesionalitas dan moralitas, kedudukan jaksa justru akan menjadikan pribadi yang kejam dan zalim.

“Sebagai Jaksa Agung, saya tidak menghendaki hal tersebut, serta saya juga tidak menolerir segala bentuk penyalahgunaan wewenang, maka gunakan-lah kewenangan yang ada secara arif dan bijaksana,” ujarnya.

Jaksa Agung berpesan sebagai aparat penegak hukum, jaksa terikat dengan kode etik perilaku jaksa yang mengatur tentang kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi. “Oleh karena itu, pelajari dan pahami ketentuan yang tercantum dalam kode etik perilaku jaksa tersebut agar gerak langkah saudara sebagai jaksa selalu sesuai dengan norma perilaku jaksa,” pintanya.

Selaku orang tua di jajarannya, Jaksa Agung mengingatkan untuk menghindari segala bentuk perbuatan tercela dan pelanggaran hukum. “Butuh waktu setidaknya 20 tahun bagi saudara untuk membangun sebuah reputasi baik sebagai seorang jaksa, dan hanya 5 menit saja untuk menghancurkannya,” paparnya.

Untuk itu, Jaksa mengimbau para jaksa afar tidak tergoda untuk melakukan penyimpangan. “Pikirkan segala dampak buruk dan resiko yang harus ditanggung oleh saudara, keluarga dan institusi ini,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut Jaksa Agung juga mengingatkan tentang pentingnya menggunakan hati nurani dalam setiap pelaksanaan penegakan hukum saudara sebagai seorang Jaksa. Penegak hukum tanpa hati hurani, kata dia, ibaratnya hewan buas yang dapat melukai siapa saja, penegakan hukum tanpa hati nurani pun layaknya jasad tanpa ruh atau jiwa, sehingga tidak memiliki arti.

“Mengapa sampai hati nurani menjadi penting untuk selalu dikedepankan oleh setiap penegak hukum, karena beranjak dari tataran empiris, penegakan hukum dewasa ini cenderung mengedepankan legalitas-formal pada aspek kepastian hukum, daripada keadilan dan kemanfaatan hukum yang lebih substansial bagi masyarakat,” ujar Jaksa Agung.

Jaksa Agung menilai hati nurani adalah pelita dari seorang jaksa, yang dapat digunakan untuk menerangi kegelapan penegakan hukum yang terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Melalui hati nurani, lanjut dia, jaksa akan mendengar suara kebenaran yang mengarahkan kepada jalan keadilan, karena inti nurani adalah rasa keadilan. Dan, rasa keadilan tidak ada dalam buku, tidak pula ada dalam teks undang-undang, melainkan ada di dalam setiap hati nurani.

“Saya ingatkan sebagai Jaksa yang nantinya akan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat, saudara harus memiliki akhlak yang baik, menjaga adab serta menjunjung tinggi moral dan etika. Saudara harus mampu selalu menjaga martabat dan harga diri saudara sebagai jaksa dan menjaga marwah institusi kejaksaan karena kompetensi ilmu pengetahuan yang dimiliki harus mengikuti adab dan etika, tidak pernah mendahuluinya dan tidak pernah menghancurkannya,” ujar Jaksa Agung. (*)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.