Bupati Dico Ikuti Haul Almahfurlah Kiai Musyaffa’

KENDAL (Awal.id) – Bupati Kendal Dico M Ganinduto menghadiri pengajian umum dalam rangka Haul Almaghfurlah Kiai Musyaffa’ ke-37, di Pondok Pesantren Al-Musyaffa’ Kampir, Desa Sudipayung, Kecamatan Ngampel. Kamis (27/10).

Bupati Dico mengatakan, bersyukur dapat menghadiri haul salah satu ulama Kendal Almaghfurlah Kyai Musyaffa’.

“Haul ini merupakan tradisi yang perlu kita lestarikan, sebagai penghargaan kepada para tokoh agama atau alim ulama yang telah meninggal dunia seperti Almaghfurlah Kiai Musyaffa,”ungkapnya.

Dico mengajak untuk menjadikan kegiatan ini sebagai motivasi bersama untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, serta memperkuat persatuan dan kesatuan, dalam mewujudkan tata kehidupan masyarakat Kendal yang aman, nyaman, tenteram, damai dan semakin sejahtera.

Bupati Kendal juga meminta doa dari para alimuUlama, para kiai, para masyayikh, tokoh masyarakat dan semua yang hadir  untuk bersama-sama mendoakan agar seluruh kegiatan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Kendal dapat berjalan lancar dan tidak ada hambatan suatu apapun, serta apa yang menjadi harapan kita bersama segera dapat terwujud.

“Mari kita bergandengan tangan, bersatu padu, untuk selalu guyub dan rukun, serta menciptakan Kendal yang aman, damai dan kondusif, guna terwujudnya Kendal Handal, Unggul, Makmur, dan Berkeadilan,” harap Bupati Dico.

Sementara pengasuh ponpes Al Musyaffa, KH Mukhlis, menyampaikan, terima kasih kepada Bupati Kendal yang sudah hadir dalam acara Haul Akbar yang ke 37 KH Musyaffa’ semoga membawa keberkahan bagi semua.

KH Musyaffa’ lahir pada tahun 1916 di Dukuh Kampir, Desa Sudipayung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Almarhum merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara, dari pasangan H Umar Maksum dan Hj Hindun (Nyai Remben).

KH Musyaffa’ mengenyam pendidikan sekolah rakyat tahun 1925-1928, dan melanjutkan pendidikan di beberapa pondok pesantren.

“Dalam kehidupannya, Kiai Musyaffa’ dikenal dengan sosok kiai yang tekun, pemurah  sabar, tawadhlu, telaten ngurusi santri dan umat, penyayang,  dan wira’i dalam menjaga diri dari barang makruh apalagi haram, serta mudah bergaul dengan siapapun tanpa memandang masyarakat ataupun pejabat,” jelas KH Muhklis. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *