Bappeda Kota Semarang Bantu Atasi Masalah Pangan dan Gizi

SEMARANG (Awal.id) – Badan Perencanaan Bangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang berkolaborasi dengan Univeraitas Katolik Soegijpranata (Unika) dan Food Bank Indonesia (FOF) dalam monitoring dan evaluasi Rancangan Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) 2020-2024, di Gedung Balaikota Semarang Lantai 7, Selasa (1/11).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh organisasi perangkat daerah se-Kota Semarang, local champion, dan PKK.

Kepala Bappeda Kota Semarang Budi Prakosa menjelaskan berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tentang masalah gizi, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) untuk tiap tahunnya Kota Semarang mengalami penurunan.

“Dari tahun ke tahun masalah gizi terus mengalami penurunan,” katanya.

Menurut Budi, kolaborasi antara pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia adalah kolaborasi yang pas untuk membangun perekonomian daerah maupun negara.

“Pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia adalah kombinasi yang baik untuk menjadi negara kuat secara ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu narasumber dari Unika Inneke Hantoro mengatakan survei ini dilaksanakan sebagai bagian dari holistic assessment di proyek Sustainable, Healthy, Inclusive Food System Transformation (SHIFT) di Kota Semarang.

Inneka mengatakan dari hasil hasil survei, masalah ini menjurus kepada persoalan nutrisi, keamanan pangan dan limbah pangan. Masalahnya, masih ditemukan kasus stunting di Kota Semarang.

“Kasus stunting tidak hanya di kecamatan yang rawan gizi, namun juga di kecamatan yang sebelumnya tidak ada kasus rawan gizi,” tuturnya.

Dia mengakui persoalan keamanan pangan hingga kini masih menjadi keprihatinan, terutama penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam makanan, dan kualitas makanan jajanan yang tersedia di sekitar sekolah.

“Aspek konsumsi pangan belum mengarah ke lingkungan. Masih banyak masyarakat yang menyisakan makanan. 40% sampah di TPA di Semarang berupa makanan,” katanya.

Hasil survei tersebut, lanjut dia, juga menyebutkan sekitar setengah dari responden masih menghasilkan sisa makanan yang berhubungan dengan kegiatan konsumsi di skala rumah tangga.

Sementara narasumber dari Koordinator Food Bank Indonesia (FOI) Kota Semarang, Mustaqfirin mengatakan FOI merupakan jembatan kaum berkecukupan soal makanan dengan kaum yang membutuhkan.

Dia mengatakan organisasi sosial nirlaba ini didirikan pada 20 Mei 2015. FOI di bawah naungan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia memiliki semboyan “Mendorong Kemakmuran, Memerangi Kelaparan” hadir secara konsisten untuk menolong kelompok rentan yang kurang memiliki akses terhadap pangan.

“FOI juga berupaya menekan krisis iklim melalui pendampingan sistem pertanian yang berkelanjutan,” tandasnya. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *