Momen Hari Pahlawan, Ganjar: Banyak Medan Pertempuran yang Harus Dimenangkan

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan, di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Kamis (10/11)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan, di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Kamis (10/11)

SEMARANG (Awal.id) – Medan pertempuran bangsa Indonesia masih panjang dan berat. Potensi pendidikan, pertanian, hingga kelautan harus dimaksimalkan.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, melalui amanatnya saat upacara peringatan Hari Pahlawan, di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Kamis (10/11).

Ganjar mengatakan, diperlukan lebih dari sekadar niat termasuk strategi sebagai arah perjuangan. Sehingga pembangunan tidak asal-asalan dan potensi sumber daya manusia serta kekayaan alam yang ada, tidak dikelola serampangan.

“Pada sektor pendidikan umpama, jangan sampai mengalami kemunduran karena peraturan atau kebijakan yang selalu berubah,” ucapnya.

Menurutnya, dari peningkatan kualitas pendidikan itu, semua prasyarat kemakmuran bisa dipenuhi. Maka peningkatan kualitas SDM dan infrastruktur pendukungnya menjadi sebuah kewajiban.

Kemudian potensi dari sektor pertanian. Tak cukup hanya bicara swasembada atau kemandirian. Ganjar menyebut Indonesia mampu jadi negara lumbung pangan dunia.

“Bicara soal subtitusi pangan. Kita punya padi, porang, jagung, sagu, ubi-ubian sampai sorgum. Maka universitas dengan seluruh ilmuwannya harus diberi tugas untuk mewujudkan itu,” tegasnya.

Beberapa pekerjaan rumah yang harus dikebut adalah peningkatan produksi. Sehingga hasil tani yang melimpah tapi kualitasnya terbaik. Kemudian bagaimana melahirkan alternatif atau substitusi dan mengelola potensi-potensi itu agar ditangkap dunia industri.

“Jika dulu nenek moyang kita dijajah karena rempah-rempah, maka saat ini kita mesti meraih kejayaan dengan rempah-rempah atau emas murni dari nusantara itu,” ujar Ganjar.

Selanjutnya adalah potensi dari sektor kelautan. Termasuk di dalamnya, kata Ganjar, ada perikanan, garam, minyak, pasir besi, rare earth, energi surya dan masih sangat banyak lagi potensi lainnya yang bisa dioptimalkan.

Ganjar mengatakan, malu sepatutnya dirasakan oleh bangsa kita jika masih berleha-leha dan berpangku tangan. Apalagi jika masih ada yang korupsi, memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk mengeruk kekayaan pribadi.

“Malu kita pada Pak Subari. Semua orang memang butuh untuk mencukupi perekonomian dan penghidupan. Tapi beliau berpikir dan berbuat lebih untuk anak cucunya di masa depan tidak kebingungan mencukupi pengairan untuk lahan pertanian,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu Ganjar menyerahkan bantuan kepada Mustaqim. Ia adalah putra mantan Gubernur Jateng ke 4, Mangun Negoro. Bantuan sebesar Rp 40 juta itu, untuk rehab makam mantan Gubernur Jateng yang ada di Surakarta.

Selain itu, Ganjar secara simbolis juga meresmikan Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Jawa Tengah yang diterima langsung oleh kelompok Cipayung Jateng.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan Kirab Kebangsaan yang dimulai dari Balai Kota Semarang. Dalam kirab tersebut diarak bendera merah putih sepanjang 1.001 meter. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *