Motif Kasus Pembacokan di Terminal Penggaron karena Dendam

SEMARANG (Awal.id) – Satresktim Polrestabes Semarang menangkap 5 orang tersangka pembacokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia yang terjadi di Terminal Penggaron, pada Minggu (13/11), lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, korban dari kejadian itu bernama Bagus Adhi Saputro (23) warga, Jalan Kolonel Sugiono,  Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Ia meninggal akibat luka bacok di beberapa bagian di tubuh.

Sedangkan kelima tersangka yakni Maulana Rendy Rahmawan, Rio Aldy Permana, Aditya Saputro, Slamet Effendi, Syafik Ardiyan dan tiga orang bernama Martha, Kris, dan Arya masih buron.

Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Donny Lumbantoruan, menjelaskan pembacokan ini bermula dari sakit hati salah seorang tersangka bernama Martha yang mengkoordinasi rekan-rekannya.

“Jadi motif aksi ini didasari rasa dendam. Bermula dari Martha yang punya masalah terhadap korban, kemudian mengajak teman-temannya untuk mengroyok korban,” jelas Donny saat memimpin konferensi pers di Mapolrestabes Semarang, Rabu (23/11).

Berdasarkan rekaman CCTV, lanjutnya, korban dibacok  beberapa kali dan dianiaya di depan Pom Bensin Penggaron.

“Terlihat para tersangka tampak membacok korban dan menganiaya sampai jatuh tersungkur di jalan tepatnya di depan Pom Bensin,” jelasnya.

Sementara salah satu tersangka, Aditya Saputro  menjelaskan secara rinci kronologi pembacokan. Ia menyebut bahwa memiliki tugas untuk memancing korban untuk ke karaoke.

“Martha bilang ke saya untuk mengajak korban ke karaoke. Soalnya Martha itu sakit hati ditinggal kerja Bagus jadi pelaut di sana dia mau ngasih ‘pelajaran’,” ujarnya.

Setelah mengajak ke karaoke, Aditya mengaku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Pasalnya Aditya bukan bagian dari kelompok pengeroyok korban.

Sedangkan, salah satu pelaku pengeroyok, Syafik Ardian mengaku menusuk korban di punggungnya. Dalam penusukan ini. Ia juga menjelaskan dalam pengaruh alkohol dan hanyut dalam gerakan kelompoknya.

“Sebetulnya kami tidak berniat menusuk. Hanya memberi pelajaran saja. Tetapi sampai tepatnya berbeda. Terpengaruh alkohol,” paparnya.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa clurit, pisau belati, kayu balok panjang, dan Honda Beat warna hitam. Atas perbuatannya, para tersangka terancam pasal 170 dan 351 dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *