Permintaan Masyarakat Tinggi, Pemkot akan Bangun Dua Rusunawa pada 2023

SEMARANG (Awal.id) – Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) sudah mulai banyak dihuni oleh masyarakat Kota Semarang. 

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali mengatakan masyarakat yang berminat menempati Rusunawa mencapai seribu orang. Tingginya permintaan masyarakat ini akan direspon Pemkot, dengan cara merencanakan menambah pembangunan rusunawa di Ibu Kota Provinsi Jateng.

Ali memaparkan hingga saat ini Pemkot Semrang telah mengelola rusunnawa di sembilan titik. Dari jumlah tersebut, sembilan rusunawan itu kini sudah terisi penuh dengan tingkat hunian mencapai 2,9 ribu orang.

“Pengajuan dari masyarakat untuk menempati rusunawa hingga kini belum bisa kami realisasikan, karena keterbatasan tempat,” kata Ali saat ditemui di Rusunawa Kudu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Rabu (9/11).

Ali mengakui masyarakat mulai tertarik tinggal di rusunawa. Untuk itu, Pemkot Semarang Tengah mengupayakan penambahan rusunawa. Dia menyebutkan akan ada pembangunan rusunawan di beberapa titik, yaitu di wilayah Sawah Besar, Mangunharjo serta di Tambak Lorok pada 2023.

Soal pembangunan rusunawa 2023 tersebut, Ali mengatakan Pemkot Semarang sudah mempersiapkan lahannya.

“Namun kami masih perlu bekerja sama dengan sejumlah pihak. Misalnya di Tambak Lorok, kami harus berkoordinasi dengan Pelindo. Kami berharap kerja sama tersebut segera terealisasi,” ujarnya.

Terkait PAD untuk rusunawa di Kota Semarang, Ali mengatakan Disperkim telah menargetkan mendapatkan Rp 3 miliar lebih di sektor tersebut.

Target tersebut, kata dia, hampir mencapai 100 persen di bulan November 2022 ini, sehingga diperkirakan akan terealisasikan pada akhir tahun.

Untuk memenuhi target PAD tersebut, Ali  menerangkan pihaknya akan bekerja sama dengan beberapa dinas di lingkungan Pemkot Semarang. Misalnya, Satpol PP Kota Semarang untuk mengawasi dan menertibkan penyewa rusunawa

“Kami pastikan tidak ada oknum jual beli yang dilakukan untuk tinggal di rusunawa, semua sudah termonitor, CCTV dan petugas juga selalu mengawasi,” paparnya.

Sementara Kepala Disperkim Kota Semarang menambahkan, rusunawa diperuntukkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak memiliki rumah. Mereka juga dipungut biaya antara Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu, tergantung besar kecilnya hunian tersebut.

“Untuk tipe 26 dikenakan biaya Rp 250 ribu, tipe 24 Rp 110 ribu dan tipe 21 Rp 100 ribu setiap bulan. Tipe hunian itu juga terletak di beberapa lantai, di lantai dasar adalah tipe 26 lantai dua 24 dan paling atas tipe 21. Semakin tinggi lantainya semakin murah sewanya,” imbuhnya. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *