Bangkitkan UMKM, CV Wijaya Multi Tenika Blitar Kembali Produksi Mesin Industri Kecil dan Menengah “Murah Berkualitas”

BLITAR (Awal.id) – CV Wijaya Multi Teknika, Blitar, perusahaan bergerak di bidang pembuatan mesin Computer Numerical Control (CNC) kembali bangkit, selepas sempat berhenti beroperasi beberapa tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. Kendati dengan keterbatasan modal usaha, perusahaan yang berlokasi di RT 01/RW01, Dusun Sukoreno, Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur itu sekarang mampu menyelesaikan empat unit mesin CNC dengan merek Wim Tech, serta berbagai macam mesin lainnya.

Pemilik CV Wijaya Multi Teknika, Wijiono Aldi mengatakan beroperasinya kembali perusahaannya ini juga tidak terlepas dari tingginya animo masyarakat untuk mengembangkan dan memajukan usaha mereka pasca pandemi Covid-19. Salah satunya, dengan cara pengadaan dan update mesin produksi atau melakukan revolusi industri.

“Kami mencoba menangkap peluang yang ada. Kebangkitan dunia usaha ini, terutama perusahaan yang memproduksi barang, menjadi peluang kami untuk memproduksi mesin-mesin manufaktur,” kata Wijiono Aldi, di Blitar, Kamis (8/12).

Aldi mengaku gaerahnya untuk melanjutkan usaha produksi mesin CNC ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah untuk membantu kalangan dunia usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), agar bisa bangkit dari keterpurukan.

Salah satunya dengan meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang mana bunganya tidak mencekik para pelaku usaha kecil dan menengah. “Kami merasa berterima kasih atas perhatian dan dorongan pemerintah, dengan membantu memberikan KUR kepada pelaku UMKM,” ujarnya.

Kendati persaingan penjualan mesin CNC di era globalisasi ini tinggi, Aldi merasa optimistis mesin produksi Wim Tech mampu bersaing dengan produk lain.

Dengan proses perakitan dan rekayasa/otomasi serta penerapan teknologi tepat guna, kata Aldi, produksi mesin industri kecil dan menengah CV Wijaya Multi Teknika diharapkan mampu menjadi solusi alterlatif bagi pelaku usaha yang membutuhkan mesin manufaktur yang bisa diandalkan dengan harga terjangkau.

Dia mencontohkan, mesin CNC Router yang digunakanl untuk mengukir pada media kayu, tripleks, MDF dan sejenisnya, di market place, harganya masih menyentuh angka ratusan juta rupiah.

“Itu pun masih dengan kekurangan yang cukup mengganggu. Salah satunya, karena dimensinya yang besar, sehingga konsumen agak kesulitan kalau ada gangguan,” paparnya.

Kedua, lanjut Aldi, biasanya mesin tersebut antara hardware dan software satu kesatuan. Akibatnya, teknisi menjadi kesulitan untuk memperbaikinya jika mesin mengalami kerusakan.

Berdasarkan hal tersebut, menurut Aldi, perusahaan memproduksi mesin CNC Router yang memiliki banyak kelebihan, sehinggga dapat membantu para pelaku UMKM dalam proses produksi barang.

Aldi menyebut ada sejumlah kelebihan CNS Router dibandingkan dengan mesin sejenis. Keunggulan atau kelebihan itu yakni:

1. Multi guna
Bisa untuk mengukir/grafir dan memotong pada media kayu, tripleks, MDF, spon eva. Bahkan bisa untuk marmer dan keramik, seperti untuk membuat prasasti dan papan peresmian. Semua dikerjakan dengan komputer.
2. Fleksible
Mudah untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.
3. Prosesor/papan perintah/komputer yang terpisah, sehingga mudah untuk diperbaiki sendiri andai ada trouble, bahkan bisa pakai laptop pribadi.
4. Harga yang lebih terjangkau, 35 – 70% lebih rendah daripada produk impor.

Untuk tipe router, Wim Tech memproduksi router untuk media solid non logam, yakni cutting (memotong), engrave (grafir) dua dimensi, seperti kaligrafi pada media tripleks, MDF, kayu, fiber, akrilik, marmer, keramik, serta ukir dimensi, misalnya relief, membuat cetakan kerawangan, cor dll.

“Untuk tipe plasma, bisa digunakan memotong dan mengukir pada media logam. Sedang untuk tipe laser, untuk memotong dan ukir pada hampir semua media solid, misal logam, tripleks, kain dan sejenis,” jelasnya.

Selain produk tersebut, Aldi mengatakan mesin Wim Tech memiliki fitur khusus yang jarang ada pada produk lain. Keunggulan, Wim Tech memiliki Auto Zero, yakni menentukan titik awal pengerjaan secara otomatis, sehingga mempermudah pengoperasian dan meningkatkan akurasi.

Soal harga mesin Wim Tech, Aldi menyebut harga lebih murah dibandingkan dengan mesin produksi lain. “Harga Wim Tech full set Rp 45 juta. Mesin ini bisa untuk mengukir kayu, tripleks, MDF, akrilik, spons eva dan sejenisnya. Juga bisa untuk media dengan kekerasan tinggi, misalkan granite, marmer dan sejenisnya,” ujarnya.

Keterbatasan Modal

Aldi mengakui perusahaan saat ini terkendala masalah modal. Untuk menyiasat agar roda perusahaan terus berjalan pihaknya menerap sistem pre order dalam penjualan mesin. Artinya, customer/pembeli harus memesan terlebih dahulu barang akan dibeli. Selain, itu pembeli harus membayar produk di awal, dengan estimasi waktu yang telah diinfokan dan disepakati, hingga stok produk tersedia.

Kendati penjualan produksi mesin manufaktur melalui pre order, Aldi menilai sistim ini sangat menguntungkan kedua belah pihak. Alasannya, produk pre order merupakan produk yang memiliki masa pengemasan yang lebih lama, yaitu tujuh hari atau lebih.

Di sisi lain, produk pre order umumnya adalah produk custom atau produk yang membutuhkan penanganan khusus. Masa pengemasan untuk produk pre order biasanya mulai 7-30 hari kerja.

Soal mekanisme pemesanan, Aldi merinci pembeli diminta mengontak dan berkonsultasi dengan perusahaan melalui telepon 0821 40 888808 tentang keinginan dan rencana kegunaan mesin tersebut.

Dari gambaran itu, pihaknya bisa mendesign, merakit dan mengimplementasikan secara khusus, walau sebenarnya mesin tersebut bisa dengan mudah untuk dimodifikasi, dan sudah mempunyai fungsi yang multi guna.

Selanjutnya, pemesan menyerahkan DP minimal sebesar 35% dari harga barang. Setelah barang selesai, konsumen akan mendapatkan training singkat cara pengoperasian mesin, sekaligus observasi kalau ada hal hal yang khusus. Terakhir, barang diserahkan setelah pemesan menyelesaikan sisa pembayaran.

Menyinggung pangsa pasar, Aldi mengakui saat ini sebagian besar konsumen masih berada di wilayah Jawa Timur dan sekitar. Namun, seiring perjalanan waktu, dia optimistis Wim Tech bisa menembus pasar mesin nasional.  (*)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *