Kampanyekan Perubahan Iklim dan Kerentanan Pesisir, Ditampart akan Berkesenian di Bekas Gusuran Kampung Tambakrejo

SEMARANG (Awal.id) – Dinas Cipta Tempat dan Ruang (Ditampart), sebuah platform inisiasi Kolektif Hysteria, akan berkeliling ke tempat-tempat di Kota Semarang untuk menyebarkan atau mengampanyekan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan kerentanan pesisir.

Ditampart adalah platform artstik yang digunakan untuk menyiasati minimnya insfrastruktur ruang pamer atau pertunjukan di Semarang.  Ditampart ini merupakan ajang sosialisasi program seni dua tahunan berbasis spesifik situs Penta Klabs oleh Kolektif Hysteria.

Kali ini, Ditampart akan mengambil delapan lokasi, yakni Kafe Bersua (Sabtu, 19/11), Uin Walisongo (Rabu, 23/11), Unisulla (Kamis, 24/11), Demajors (Jumat, 25/11), Undip FIB (Rabu, 30/11), Kama Tembalang (Sabtu, 3/12), Undip FIB (Senin, 5/12), dan Unisbank (Kamis, 8/12).

Ketua Panitia, Pujo Nugroho menuturkan Ditampart menjadi bagian rangkaian Penta Klabs (sites specifik art project biennale) yang telah dihelat Hysteria sejak 2016. Dengan dukungan dana Indonesiana Kemendikbud, event ini akan dilaksanakan dari tanggal 17-21 Desember di hunian sementara bekas gusuran Kampung Tambakrejo.

Kegiatan ini melibatkan lebih dari 70 partisipan dari berbagai kota, bahkan beberapa dari luar negeri, seperti Hongkong, Australia dan Meksiko.

“Ditampart secara fisik berbentuk motor roda tiga, yang setelah dimodifikasi membentuk panggung seluas 6×10 meter, yang bisa difungsikan sebagai ruang pamer maupun pertunjukan,” papar Pujo Nugroho.
Selain menawarkan penampilan yang berbeda dari acara seni pada umumnya, platform ini diharapkan mampu memberikan imajinasi kepada khalayak soal siasat ruang (berkesenian).

Sementara itu, Nella Ardiantanti (21), warga Candi Timur RT11 RW6 Kali Pancur, Ngaliyan, Semarang, mengatakan sangat terkesan dengan cara-cara kreatif yang dilakukan tim Ditampart.

“Atsmosfernya dapet, semoga acara-acara seperti ini akan sering diadakan di Semarang, sehingga memberi variasi tontonan bagi masyarakat, dan juga memberikan space kepada anak-anak muda terlibat dalam berbagai komunitas kreatif di Semarang,” ungkap Nella.

Adapun seniman yang terlibat dalam Ditampart, yaitu Irfan Hore, Erdin Nandus, Hananingsih Widhiasri, Debby Selviana, Mici, Hilmi, Kidung Candha Wasa, Bagus Panuntun, Rohmat Kuslarsono, Haris Yuliyanto, Novelino Adam, Studio Berbahagya, Program Layar Disco, Rubber Heat, Malik Ros, Rasi Timur, Sepur Clan, Tingkar Ayu, Rrrefal & teh Legi-Legi People, Pale Harbor, Balau, Evenless, Unless, Femm Chem, WOL, Serambi, Bhakta Murti, Sore Tenggelam, Agus Budi Santoso, Sastro Dirjo Folk, Ufuk Utara, Empyrean. (is)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *